Minggu, 11 Desember 2016

Ngopi, Main Gaple Sama Tuhan

Jika mungkin sejak bertahun lalu kehidupan malam pada sepertiganya diiisi dengan do'a, tangisan, dan ratapan harapan. Saat ini mungkin lebih santai dengan rasa yang mati antara tetap menyembah Tuhan tanpa harus merengek kesakitan.

Bahkan mungkin tak perlu lagi ada bunga, puisi, pujian, dan rayuan. Aku hanya diam, menyerahkan jiwa dan raga pada Tuhan, sambil menyeruput kopi.

Sudahlah, kita sama tahu, Engkau Tuhan dan aku hamba. Apa iya cara-cara pedekate dengan rayuan gombal masih berlaku disini? Sesekali saja mungkin. Sepasang kekasih pun tak melulu harus mendeklarasikan cinta, tapi rasa selalu berbicara.

Ratapan pada sepertiga malam mungkin terjadi ketika hamba terlalu putus asa dengan keinginan. Lalu seorang hamba menangis sejadi-jadinya sambil berdo'a. Berharap Tuhan iba, dan mengabulkan permohonannya. Padahal, tangisan itu ya hanya saat tertentu saja, di sepertiga malam terakhir yang dianggap waktu yang tepat dengan do'a mustajab. Setelah itu, lupa.

Dengan tanpa mengurangi cinta, di luar kewajiban hamba, ada saatnya main gaple sambil menyeruput kopi, pada sepertiga malam sambil mengingatMu, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.